Promo atau welcome store

Tampilkan postingan dengan label kado unik wisuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kado unik wisuda. Tampilkan semua postingan

lukisan figuratif jejak kaki


jejak kaki

Lukisan figuratif tertua ditemukan di sebuah gua di Indonesia. Tepatnya di Leang Bulu Sipong 4, Sulawesi Selatan.

Guratan panel itu lebarnya hampir 5 meter. Tergambar di dinding, gua hewan endemik setempat, anoa dan babi hutan. Di samping hewan-hewan ini, ada sosok yang lebih kecil. Terlihat seperti manusia, tapi memiliki penampakan seperti satwa dengan adanya ekor dan moncong. 

Pesta perburuan. Demikian para peneliti yang menemukannya dan menamainya. Mereka menyimpulkan, lukisan gua itu digambar sekitar 44 ribu tahun yang lalu. Tak heran, temuan ini berpotensi "menulis ulang" sejarah. Asal-usul seni di dunia. 

Sebelumnya, riwayat peradaban "manusia melukis" diklaim bangsa Eropa. Gurat lukisan dalam Gua Chauvet di Prancis, misalnya, diperkirakan berumur 37 ribu tahun. 

Namun, beberapa tahun lalu, sekelompok ilmuwan asing mulai meneliti lukisan-lukisan gua di Indonesia. Mereka mendapati, lukisan gua di Sulawesi jauh lebih tua. 

"Ini temuan yang sangat mengejutkan," ujar Adam Brumm, arkeolog Griffith University, Australia, yang menggunakan teknik analisis rangkaian-uranium untuk menentukan umur lukisan. 

Lukisan-lukisan itu memang bukan hal baru, baik bagi warga lokal maupun bagi sejarah negeri ini. Namun, Brumm menekankan, "Tak ada yang menyangka usianya akan setua itu."

Temuan pertama mengarahkan Brumm dan tim-arkeolog Maxime Aubert dan Adhi Agus Oktaviana-mencari lebih banyak kemungkinan. Hingga akhirnya mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan. Yakni, skena perburuan besar-besaran yang membentang sekira 16 kaki di dinding gua. 

Inilah seni figuratif tertua itu, yang kemudian dikaitkan dengan keberadaan manusia modern paling awal. Pengungkapan ini pun dipublikasikan di jurnal Nature.

Cerita dalam lukisan lumayan kompleks. Anoa dan babi hutan berlari dikejar pemburu bertubuh mungil yang berbekal tombak dan tali. "Mirip manusia, tapi ada beberapa karakteristik yang membuat mereka menyerupai hewan," kata Brumm. 

Ada gambar manusia yang memiliki kepala seperti burung, sementara lainnya punya ekor. Brumm meyakini, penggambaran ini merupakan sinyalemen kepercayaan spiritual manusia pada zaman itu. Manusia purba dikatakan mampu membayangkan hal-hal yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. 

"Bahwa hal-hal yang berbau supranatural itu nyata adanya," kata dia.

Temuan ini di sisi lain merupakan bukti kemajuan teknologi. Pakar paleoantropologi Universitas Victoria Genevieve von Petzinger mengatakan, segala upaya penemuan di bidangnya semakin cepat berkat adanya teknologi mutakhir.

"Pada akhirnya, kita memahami betapa selama ini kita meremehkan kapasitas leluhur kita," ujarnya. 

Genevieve mengungkapkan, lukisan gua tertua di Eropa dan Asia sejatinya memiliki elemen umum. Ia menilai, lukisan yang lebih tua kemungkinan berada di tempat asal dua bangsa itu. "Secara personal saya kira nenek moyang kita sudah mengenal karya seni sebelum mereka hijrah dari Afrika," tuturnya.

Meski belum ada data pendukung, Brum mengaku memiliki firasat yang sama. Hanya saja, masalah baru muncul yakni kondisi lukisan gua yang cepat rusak dan pudar. Para ilmuwan masih mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi suhu atau perubahan iklim.

"Temuan ini penting dan merupakan bagian dari kisah manusia, tapi kehancurannya di depan mata. Siapa tahu masih ada seni lukis gua lainnya di luar sana? Dan, itu semua bisa mengubah pemahaman kita tentang evolusi manusia," kata Brumm.

Artefak Zaman Klasik

Lukisan gua boleh jadi jejak peradaban awal manusia. Namun, masih ada jejak peradaban lain yang ditemukan di negeri ini. Seperti hasil penggalian yang dilakukan arkeolog Prancis Daniel Perret. 

Proyek ekskavasi Indonesia-Prancis ini berujung pada beberapa temuan penting. Salah satunya adalah di wilayah Bukit Hasang, Sumatera Utara.

Di sana, Daniel menemukan 181.639 artefak yang terbagi atas 138 ribu earthenware, 86 glazed earthenware, 41.602 stoneware dan porselen, 1.217 glassware, 236 glass beads, 16 glasa (kalung), 371 potongan besi, 78 potongan perunggu, dua emas, satu lead, satu perak, 23 koin China, tiga kalung batu, dan tiga kontainer kecil dari batu.

"Beberapa tinggalan berasal dari daerah Arab, seperti Iran. Ada juga pottery dari India, koin China. Kontainer batu ini dilihat juga berasal dari Jazirah Arab, sekitar Arabic Peninsula," ujar Daniel di Jakarta, Rabu (4/12).

Ekskavasi bukan perkara mudah. Banyak hal yang membuat kerjanya tak maksimal. Termasuk perizinan. "Banyak lahan di sini dimiliki oleh masyarakat pribadi. Jadi, kami harus izin satu per satu terlebih dahulu," jelasnya.

Daniel juga sempat melakukan ekskavasi di daerah Padang Lawas. Di wilayah ini ia menemukan beberapa tinggalan yang diduga bekas permukiman, sebab ditemukan banyak batu kecil dan gravel (makadam) saat melakukan ekskavasi. 

"Tempat ini sekitar 12 jam dari Medan. Di sini kami menemukan banyak earthware, keramik, dan indikasi pemukiman," ungkapnya.

Tidak hanya dua tempat itu saja yang menjadi fokus dalam ekskavasi yang dilakukannya. Daniel juga melakukan penelitian di Situs Kota Cina. Dalam situs ini, ia menemukan 218.984 artefak. Uniknya, Daniel juga berhasil menemukan ekofak (artefak dari makhluk hidup).

"Di Kota Cina banyak ditemukan kerang yang merupakan hasil dari produk memasak. Ini menjadi indikasi kalau ada permukiman di tempat ini dulu. Di tempat ini pula tinggalan organik dapat terpreservasi dengan baik. Terbukti ada banyak tinggalan kayu. Ada juga tali dari tanaman jenis palm sugar. Bahkan ada yang masih terikat ke batang kayu," terangnya.

Selain melakukan penggalian, Daniel juga menemukan adanya pengaruh budaya asing yang terjadi di wilayah Sumatera Utara sejak dahulu kala. Ini dilihat setelah ia meneliti batu nisan yang terdapat di pemakaman Islam.

"Dari tipologi, batu nisan ini berasal dari abad ke-14 hingga ke-15. Ada bahasa Arab dengan pengaruh Persia di inskripsinya. Ada juga bahasa Malay dan juga nama-nama yang diduga dari China. Mungkin berasal dari komunitas Muslim China di Bengal," kata Daniel.

"Saya dapat mengatakan bahwa Sumatera Utara mungkin menjadi tempat pendokumentasian terbaik dalam konteks permukiman zaman (klasik) dahulu," 
imbuhnya. 



Jaman sekarang sudah antimainstream dengan kado yang biasa. ada banyak pilihan kado unik untuk berbagai kegiatan. contoh lukis kayu unik dari jejakita bisa untuk wisuda, kado unik, kado wedding

kado birthday

kado wisuda


jejak kaki

Lukisan figuratif tertua ditemukan di sebuah gua di Indonesia. Tepatnya di Leang Bulu Sipong 4, Sulawesi Selatan.

Guratan panel itu lebarnya hampir 5 meter. Tergambar di dinding, gua hewan endemik setempat, anoa dan babi hutan. Di samping hewan-hewan ini, ada sosok yang lebih kecil. Terlihat seperti manusia, tapi memiliki penampakan seperti satwa dengan adanya ekor dan moncong. 

Pesta perburuan. Demikian para peneliti yang menemukannya dan menamainya. Mereka menyimpulkan, lukisan gua itu digambar sekitar 44 ribu tahun yang lalu. Tak heran, temuan ini berpotensi "menulis ulang" sejarah. Asal-usul seni di dunia. 

Sebelumnya, riwayat peradaban "manusia melukis" diklaim bangsa Eropa. Gurat lukisan dalam Gua Chauvet di Prancis, misalnya, diperkirakan berumur 37 ribu tahun. 

Namun, beberapa tahun lalu, sekelompok ilmuwan asing mulai meneliti lukisan-lukisan gua di Indonesia. Mereka mendapati, lukisan gua di Sulawesi jauh lebih tua. 

"Ini temuan yang sangat mengejutkan," ujar Adam Brumm, arkeolog Griffith University, Australia, yang menggunakan teknik analisis rangkaian-uranium untuk menentukan umur lukisan. 

Lukisan-lukisan itu memang bukan hal baru, baik bagi warga lokal maupun bagi sejarah negeri ini. Namun, Brumm menekankan, "Tak ada yang menyangka usianya akan setua itu."

Temuan pertama mengarahkan Brumm dan tim-arkeolog Maxime Aubert dan Adhi Agus Oktaviana-mencari lebih banyak kemungkinan. Hingga akhirnya mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan. Yakni, skena perburuan besar-besaran yang membentang sekira 16 kaki di dinding gua. 

Inilah seni figuratif tertua itu, yang kemudian dikaitkan dengan keberadaan manusia modern paling awal. Pengungkapan ini pun dipublikasikan di jurnal Nature.

Cerita dalam lukisan lumayan kompleks. Anoa dan babi hutan berlari dikejar pemburu bertubuh mungil yang berbekal tombak dan tali. "Mirip manusia, tapi ada beberapa karakteristik yang membuat mereka menyerupai hewan," kata Brumm. 

Ada gambar manusia yang memiliki kepala seperti burung, sementara lainnya punya ekor. Brumm meyakini, penggambaran ini merupakan sinyalemen kepercayaan spiritual manusia pada zaman itu. Manusia purba dikatakan mampu membayangkan hal-hal yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. 

"Bahwa hal-hal yang berbau supranatural itu nyata adanya," kata dia.

Temuan ini di sisi lain merupakan bukti kemajuan teknologi. Pakar paleoantropologi Universitas Victoria Genevieve von Petzinger mengatakan, segala upaya penemuan di bidangnya semakin cepat berkat adanya teknologi mutakhir.

"Pada akhirnya, kita memahami betapa selama ini kita meremehkan kapasitas leluhur kita," ujarnya. 

Genevieve mengungkapkan, lukisan gua tertua di Eropa dan Asia sejatinya memiliki elemen umum. Ia menilai, lukisan yang lebih tua kemungkinan berada di tempat asal dua bangsa itu. "Secara personal saya kira nenek moyang kita sudah mengenal karya seni sebelum mereka hijrah dari Afrika," tuturnya.

Meski belum ada data pendukung, Brum mengaku memiliki firasat yang sama. Hanya saja, masalah baru muncul yakni kondisi lukisan gua yang cepat rusak dan pudar. Para ilmuwan masih mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi suhu atau perubahan iklim.

"Temuan ini penting dan merupakan bagian dari kisah manusia, tapi kehancurannya di depan mata. Siapa tahu masih ada seni lukis gua lainnya di luar sana? Dan, itu semua bisa mengubah pemahaman kita tentang evolusi manusia," kata Brumm.

Artefak Zaman Klasik

Lukisan gua boleh jadi jejak peradaban awal manusia. Namun, masih ada jejak peradaban lain yang ditemukan di negeri ini. Seperti hasil penggalian yang dilakukan arkeolog Prancis Daniel Perret. 

Proyek ekskavasi Indonesia-Prancis ini berujung pada beberapa temuan penting. Salah satunya adalah di wilayah Bukit Hasang, Sumatera Utara.

Di sana, Daniel menemukan 181.639 artefak yang terbagi atas 138 ribu earthenware, 86 glazed earthenware, 41.602 stoneware dan porselen, 1.217 glassware, 236 glass beads, 16 glasa (kalung), 371 potongan besi, 78 potongan perunggu, dua emas, satu lead, satu perak, 23 koin China, tiga kalung batu, dan tiga kontainer kecil dari batu.

"Beberapa tinggalan berasal dari daerah Arab, seperti Iran. Ada juga pottery dari India, koin China. Kontainer batu ini dilihat juga berasal dari Jazirah Arab, sekitar Arabic Peninsula," ujar Daniel di Jakarta, Rabu (4/12).

Ekskavasi bukan perkara mudah. Banyak hal yang membuat kerjanya tak maksimal. Termasuk perizinan. "Banyak lahan di sini dimiliki oleh masyarakat pribadi. Jadi, kami harus izin satu per satu terlebih dahulu," jelasnya.

Daniel juga sempat melakukan ekskavasi di daerah Padang Lawas. Di wilayah ini ia menemukan beberapa tinggalan yang diduga bekas permukiman, sebab ditemukan banyak batu kecil dan gravel (makadam) saat melakukan ekskavasi. 

"Tempat ini sekitar 12 jam dari Medan. Di sini kami menemukan banyak earthware, keramik, dan indikasi pemukiman," ungkapnya.

Tidak hanya dua tempat itu saja yang menjadi fokus dalam ekskavasi yang dilakukannya. Daniel juga melakukan penelitian di Situs Kota Cina. Dalam situs ini, ia menemukan 218.984 artefak. Uniknya, Daniel juga berhasil menemukan ekofak (artefak dari makhluk hidup).

"Di Kota Cina banyak ditemukan kerang yang merupakan hasil dari produk memasak. Ini menjadi indikasi kalau ada permukiman di tempat ini dulu. Di tempat ini pula tinggalan organik dapat terpreservasi dengan baik. Terbukti ada banyak tinggalan kayu. Ada juga tali dari tanaman jenis palm sugar. Bahkan ada yang masih terikat ke batang kayu," terangnya.

Selain melakukan penggalian, Daniel juga menemukan adanya pengaruh budaya asing yang terjadi di wilayah Sumatera Utara sejak dahulu kala. Ini dilihat setelah ia meneliti batu nisan yang terdapat di pemakaman Islam.

"Dari tipologi, batu nisan ini berasal dari abad ke-14 hingga ke-15. Ada bahasa Arab dengan pengaruh Persia di inskripsinya. Ada juga bahasa Malay dan juga nama-nama yang diduga dari China. Mungkin berasal dari komunitas Muslim China di Bengal," kata Daniel.

"Saya dapat mengatakan bahwa Sumatera Utara mungkin menjadi tempat pendokumentasian terbaik dalam konteks permukiman zaman (klasik) dahulu," 
imbuhnya. 



Jaman sekarang sudah antimainstream dengan kado yang biasa. ada banyak pilihan kado unik untuk berbagai kegiatan. contoh lukis kayu unik dari jejakita bisa untuk wisuda, kado unik, kado wedding

kado birthday

kado wisuda

jejak kaki ku bersamamu


seniman lukis disabilitas 


Terlahir tanpa tangan, tak membuat pria kelahiran Malang ini patah semangat. Bakat melukis yang telah hadir sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) terus dikembangkan. Cercaan yang didapatkan dari orang-orang meremehkannya dianggap sebagai motivasi.

"Jadikan cacian, hinaan dan cercaan sebagai pil pahit untuk memotivasi kita lebih baik lagi ke depannya," ujar pria kelahiran 29 Oktober 1966  di Jalan Selat Sunda Raya D1/40B, Sawojajar, Kota Malang

Tak ada rasa lain selain kesukaan yang tiada terkira saat dirinya mulai menggeluti lukisan. Sudah tidak terhitung juga lukisan yang telah dihasilkannya sejak duduk di bangku TK. Bahkan, karya-karya pria yang pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sudah mampu mencapai tanah Eropa.
Seperti yang diungkapkan Sadikin sebelumnya, melukis awalnya hanya sekedar hobi dan kesenangan semata. Cita-cita Sadikin sejak dulu sebenarnya menjadi seorang arsitek andal di masa depan. Namun penjurusan IPS di bangku SMA, membuatnya sulit untuk menembus program studi (prodi) arsitek saat kuliah."Jadinya saya masuk jurusan psikologi saat kuliah," tambah dia.
Sekitar 1989 pada semester tiga, Sadikin mulai tertarik untuk fokus menggeluti bakatnya itu. Dia mulai mendaftar sebagai pelukis di organisasi yang berpusat di Swiss, Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Dari wadah komersial ini, Sadikin pun dituntut untuk menghasilkan 15 lukisan setiap tahunnya.

Pengiriman lukisan ke AMFPA di 1989 membuatnya memeroleh bayaran sekitar 300 Swiss Franc. Di 1989, uang tersebut setara dengan Rp 300 ribu. Jumlah ini jelas cukup besar dimiliki seorang anak muda di zamannya.
Tak ada patokan khusus yang diberikan organisasi mengenai tema gambar yang akan dilukis. Hal terpenting memiliki kualitas dan bernilai jual tinggi. Bernilai jual tinggi ini yang belum diketahui Sadikin sejak dahulu karena hanya tim juri yang mengetahuinya.
Menurut Sadikin, lukisan akan dikomersilkan dan disebar ke penjuru Eropa setelah lolos penjurian secara independen. Karya-karya tersebut biasanya dijadikan sebagai hiasan kartu ucapan, dompet, seprai dan sebagainya.
Dari sejumlah lukisan yang dikirim, karya Sadikin pernah terpilih sebagai best seller di 2005. Ia teringat betul bagaimana lukisan anak kecil berjilbab dengan helaian rambut yang keluar dari hijabnya ini menjadi menarik di mata penikmat seni. Inspirasi tanpa sengaja ini mendatangkan keuntungan besar, meski mendapatkan banyak kritikan.

"Itu banyak dikritik karena kalau berhijab kan tidak boleh kelihatan rambutnya. Dulu kenapa melukisnya karena saya pikir itu lucu dan polos jadi terlihat jujur. Nah karena banyak kritikan, jadinya best seller," tututr pria yang memiliki dua anak ini.
Penyebaran karya lukisan realisme dan impresionisme Sadikin juga terjadi di Indonesia. Beberapa pameran yang dilaksanakan bersama para pelukis lainnya membuatnya semakin dikenal. Bahkan, terdapat satu penggemarnya di Surabaya yang mengontraknya untuk membuat lukisan di kediaman pribadinya dengan anggaran Rp 300 juta.

Karena memiliki nilai estetika tinggi, Sadikin seringkali mendapatkan tawaran harga tinggi dari karya-karyanya. Salah satunya lukisan Romantika Garden yang berhasil dibeli seharga mobil ratusan juta di Surabaya. Pembeli kebetulan sangat mencintai karya seni dan memiliki keuangan yang memadai.
Meski pernah ditawari harga tinggi, Sadikin mengaku sempat beberapa kali memberikan lukisannya secara gratis. Kondisi ini terjadi biasanya terdapat satu penggemar seni yang begitu ingin memiliki karya lukisannya. Namun sayangnya, individu terkait tidak memiliki uang cukup untuk membelinya.

"Bagaimana tidak terenyuh dan tersentuh kalau seperti itu? Maka itu saya ucapkan 'kalau bapak senang, ya bawa saja'," kenang Sadikin.
Tak ingin hanya dirinya yang berkompeten dalam seni lukis, Sadikin dalam beberapa bulan terakhir telah membuka sanggar di Jalan Selat Sunda Raya D1/40B, Sawojajar, Kota Malang. Semenjak enam bulan lalu, ia kini telah memiliki 12 murid dari usia 5 sampai belasan tahun di bangku SMA. Di sini, mereka tidak hanya diajarkan melukis tapi juga bagaimana berperilaku baik untuk semua orang.

Menurut Sadikin, nilai seni layak diterapkan pada anak-anak sejak usia dini. Sebab kelak di kehidupan selanjutnya,  mereka perlu merasakan, menikmati dan menjiwai pengalaman kehidupan mereka. Mereka tidak lagi menjadi kaku dalam menikmati hidup yang sebenarnya begitu indah ini.

"Karena kesenian itu lebih fleksibel dalam menilai sesuatu. Akan terasa lebih indah," tegasnya.
Untuk dapat mendapatkan pengajaran ini, satu orang murid hanya perlu memberikan tunjangan sekitar Rp 200 ribu per bulan. Mereka dapat memahami dan mengembangkan bakat seni lukisnya setiap Sabtu. Sebagai wujud apresiasi, tak jarang Sadikin ikut memamerkan karya-karya anak muridnya ke publik.

kado pacar annyversary

kado wisuda



seniman lukis disabilitas 


Terlahir tanpa tangan, tak membuat pria kelahiran Malang ini patah semangat. Bakat melukis yang telah hadir sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) terus dikembangkan. Cercaan yang didapatkan dari orang-orang meremehkannya dianggap sebagai motivasi.

"Jadikan cacian, hinaan dan cercaan sebagai pil pahit untuk memotivasi kita lebih baik lagi ke depannya," ujar pria kelahiran 29 Oktober 1966  di Jalan Selat Sunda Raya D1/40B, Sawojajar, Kota Malang

Tak ada rasa lain selain kesukaan yang tiada terkira saat dirinya mulai menggeluti lukisan. Sudah tidak terhitung juga lukisan yang telah dihasilkannya sejak duduk di bangku TK. Bahkan, karya-karya pria yang pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sudah mampu mencapai tanah Eropa.
Seperti yang diungkapkan Sadikin sebelumnya, melukis awalnya hanya sekedar hobi dan kesenangan semata. Cita-cita Sadikin sejak dulu sebenarnya menjadi seorang arsitek andal di masa depan. Namun penjurusan IPS di bangku SMA, membuatnya sulit untuk menembus program studi (prodi) arsitek saat kuliah."Jadinya saya masuk jurusan psikologi saat kuliah," tambah dia.
Sekitar 1989 pada semester tiga, Sadikin mulai tertarik untuk fokus menggeluti bakatnya itu. Dia mulai mendaftar sebagai pelukis di organisasi yang berpusat di Swiss, Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Dari wadah komersial ini, Sadikin pun dituntut untuk menghasilkan 15 lukisan setiap tahunnya.

Pengiriman lukisan ke AMFPA di 1989 membuatnya memeroleh bayaran sekitar 300 Swiss Franc. Di 1989, uang tersebut setara dengan Rp 300 ribu. Jumlah ini jelas cukup besar dimiliki seorang anak muda di zamannya.
Tak ada patokan khusus yang diberikan organisasi mengenai tema gambar yang akan dilukis. Hal terpenting memiliki kualitas dan bernilai jual tinggi. Bernilai jual tinggi ini yang belum diketahui Sadikin sejak dahulu karena hanya tim juri yang mengetahuinya.
Menurut Sadikin, lukisan akan dikomersilkan dan disebar ke penjuru Eropa setelah lolos penjurian secara independen. Karya-karya tersebut biasanya dijadikan sebagai hiasan kartu ucapan, dompet, seprai dan sebagainya.
Dari sejumlah lukisan yang dikirim, karya Sadikin pernah terpilih sebagai best seller di 2005. Ia teringat betul bagaimana lukisan anak kecil berjilbab dengan helaian rambut yang keluar dari hijabnya ini menjadi menarik di mata penikmat seni. Inspirasi tanpa sengaja ini mendatangkan keuntungan besar, meski mendapatkan banyak kritikan.

"Itu banyak dikritik karena kalau berhijab kan tidak boleh kelihatan rambutnya. Dulu kenapa melukisnya karena saya pikir itu lucu dan polos jadi terlihat jujur. Nah karena banyak kritikan, jadinya best seller," tututr pria yang memiliki dua anak ini.
Penyebaran karya lukisan realisme dan impresionisme Sadikin juga terjadi di Indonesia. Beberapa pameran yang dilaksanakan bersama para pelukis lainnya membuatnya semakin dikenal. Bahkan, terdapat satu penggemarnya di Surabaya yang mengontraknya untuk membuat lukisan di kediaman pribadinya dengan anggaran Rp 300 juta.

Karena memiliki nilai estetika tinggi, Sadikin seringkali mendapatkan tawaran harga tinggi dari karya-karyanya. Salah satunya lukisan Romantika Garden yang berhasil dibeli seharga mobil ratusan juta di Surabaya. Pembeli kebetulan sangat mencintai karya seni dan memiliki keuangan yang memadai.
Meski pernah ditawari harga tinggi, Sadikin mengaku sempat beberapa kali memberikan lukisannya secara gratis. Kondisi ini terjadi biasanya terdapat satu penggemar seni yang begitu ingin memiliki karya lukisannya. Namun sayangnya, individu terkait tidak memiliki uang cukup untuk membelinya.

"Bagaimana tidak terenyuh dan tersentuh kalau seperti itu? Maka itu saya ucapkan 'kalau bapak senang, ya bawa saja'," kenang Sadikin.
Tak ingin hanya dirinya yang berkompeten dalam seni lukis, Sadikin dalam beberapa bulan terakhir telah membuka sanggar di Jalan Selat Sunda Raya D1/40B, Sawojajar, Kota Malang. Semenjak enam bulan lalu, ia kini telah memiliki 12 murid dari usia 5 sampai belasan tahun di bangku SMA. Di sini, mereka tidak hanya diajarkan melukis tapi juga bagaimana berperilaku baik untuk semua orang.

Menurut Sadikin, nilai seni layak diterapkan pada anak-anak sejak usia dini. Sebab kelak di kehidupan selanjutnya,  mereka perlu merasakan, menikmati dan menjiwai pengalaman kehidupan mereka. Mereka tidak lagi menjadi kaku dalam menikmati hidup yang sebenarnya begitu indah ini.

"Karena kesenian itu lebih fleksibel dalam menilai sesuatu. Akan terasa lebih indah," tegasnya.
Untuk dapat mendapatkan pengajaran ini, satu orang murid hanya perlu memberikan tunjangan sekitar Rp 200 ribu per bulan. Mereka dapat memahami dan mengembangkan bakat seni lukisnya setiap Sabtu. Sebagai wujud apresiasi, tak jarang Sadikin ikut memamerkan karya-karya anak muridnya ke publik.

kado pacar annyversary

kado wisuda


 
2016 Cincin nikah koe | Blogger Templates
Tips SEO Blogspot